Gelas, Kolam & Memaafkan
Minggu pagi yang cerah, dihalaman rumput taman ganesha Salman ITB. Tampak sesosok mentor yang sedang asyik memberikan simulasi kepada peserta mentoringnya.
“Adik-adik ini ada secangkir gelas yang berisi air putih! dan disamping kita juga ada kolam ikan yang cukup luas.” Sekarang kalau air digelas ini kita masukkan 1 sendok makan garam dapur, bagaimanakah kira-kira rasanya?” Ungkap sang mentor.
Adik-adik mentoring : “Rasanya Asin kak!”
Mentor : “Sekarang kolam yang luas ini, kakak masukkan 1 sendok garam juga, bagaimanakah kira-kira rasanya?”
Adik-adik mentoring : “Tidak asin kak!”
Mentor : “ Betul adik-adik!” ada yang bisa menjelaskan?”
Adik : “ Air digelas sangatlah sedikit, hal ini disebabkan kapasitas gelas yang kecil sehingga menyebabkan air menjadi sangat asin. Berbeda dengan kolam yang sangat luas yang mudah melarutkan garam dengan sangat cepat dan menguraikannya hingga tak berasa.
Mentor : “Yap!“Sekaranng kita anggap Gelas dan Kolam melambangkan hati didada kita sedangkan garam adalah racun seperti kata-kata negatif dan perbuatan yang menyakitkan kita”. Manakah yang lebih baik?”
Adik-adik Mentoring : “Kolam yang luas kak!”
Mentor :” Andai saja kita selalu berlapang dada setiap mendapat garam, tentunya tidak akan ada dendam dan khilaf yang membekas. Dan apalagi jika kita bisa berlapang dada seluas-luasnya, kita akan bisa menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik kapan saja.
Menahan marah, memaafkan dan berbuat baik adalah kesatuan nilai yang mendasari ketaqwaan. Menahan marah saja tanpa memaafkan bukan ciri orang taqwa, tapi ciri orang pendendam.
Memaafkan jelas tak bisa direkayasa secara artifisial hanya dengan halal bihalal, maaf yang tulus lahir dari perkataan yang tulus kepada orang lain.
Orang yang hanya memperhatikan dirinya tak akan pernah dapat memaafkan. Karena itu, untuk dapat memaafkan, kita harus memusatkan perhatian kita kepada orang lain. Kita harus beralih dari pusat ego kepada posisi orang lain, kepada egoisme kepada altruisme.
Orang-orang altruis, dalam Al-Qur’an disebut sebagai orang yang berbuat baik (Al-Muhsinin).
Nabi Muhammad SAW, sangat dikenal sebagai orang yang pemaaf, beliau taburkan maafnya kepada orang-orang yang menyakitinya.
Tetapi, ciri orang taqwa bukan hanya suka memaafkan. Ia juga mampu meminta maaf. Tak jarang meminta maaf lebih sult dari memaafkan.
Kita ingat salah satu ayat di Al Qur’an.
Orang-orang yang apabila berbuat keji atau berbuat dosa, mereka ingat kepada Allah dan meminta maaf atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah?. Dan ia tidak mengulang lagi apa yang dikerjakannya padahal mereka mengetahuinya. (Holy Qur’an Ali imron :135)
Pertemuanpun ditutup dengan simulasi maaf dan Game Samaa..!
Wa Allahu a’lam bi al-showwab
Semoga bermanfaat,
Wanda Yulianto
NB: Untuk Game dan Simulasi lebih lengkap bisa menghubungi penulis (0815 720 666 16)
diambil dari milis : http://groups.yahoo.com/group/fosilram/message/969
diambil dari milis : http://groups.yahoo.com/group/fosilram/message/969

No comments:
Post a Comment